Wolo-wolo Kuwato

Siang itu, di Kali Brantas, seorang santri merapatkan sampannya ke dermaga suatu kampung terpencil bekas wilayah Majapahit. Matahari tepat di atas kepala, sesaat lagi waktu salat lohor akan tiba.

Ia baru saja hendak berwudhu saat didengarnya sayup-sayup seseorang menzikirkan kalimat yang janggal di telinga santri berilmu seperti dirinya.

“Wolo-wolo kuwato, wolo-wolo kuwato…”

Ia paham maksud kalimat-salah itu, dan tak kuasa menahan diri untuk membiarkan tanpa membetulkannya. Maka perlahan ia datangi arah suara. Dan di bawah rindang pohon lo di tepi kedung sungai, didapatinya seorang pemancing ikan sedang menunggui kailnya, sembari rengeng-rengeng berzikir ‘wolo-wolo kuwato’.

Nyuwun sewu, Kisanak,” ujar si santri usai berbasa-basi, “yang benar ‘laa haula walaa quwwata illaa billaah’, bukan ‘wolo-wolo kuwato’.”

Pemancing ikan itu tersenyum. Sejak mula memang ia tampak riang berjumpa kenalan baru yang kelihatan mengerti agama dan bersedia mengajarinya. Selama ini ia hanya paham makna kalimat wasiat orang tuanya itu, ‘wolo-wolo kuwato’, tanpa pernah tahu cara melafalkannya dengan benar.

“Kalau sampeyan lafalkan dengan tepat, dengan kesungguhan tekad, apa pun akan bisa sampeyan lakukan–insya Allah,” ujar si santri ketika tiba saatnya berpamitan. “Mau terbang, mau berjalan di atas air, semua mudah saja dengan ‘laa haula wa laa quwwata illaa billaah’.”

Menjelang sore itu, si santri kembali melajukan sampannya di derasnya Kali Brantas. Belum lama ia mengayuh, tiba-tiba si pemancing ikan menghampirinya dan minta sekali lagi diajari cara melafalkan kalimat itu dengan tepat. Apa boleh buat, lidahnya telanjur terbiasa dengan ‘wolo-wolo kuwato’ dibanding ‘la haula wala quwwata’.

Sepeninggal pemancing ikan kembali ke bawah pohon lo, si santri kesulitan menahan senyum. “Sulit betul lidah-lidah jawa itu ber-tajwid, melafal doa dan zikir, mengucap bacaan salat dengan tepat…”

Dan ia terkesiap.

Bagaimana mungkin si pemancing tadi menghampirinya ke tengah sungai tanpa basah kuyup?

Dengan ‘wolo-wolo kuwato’-kah? []

Read the latest car news and check out newest photos, articles, and more from the Car and Driver Blog.

Peminggiran dan Penggerusan Identitas Masyarakat Suku Tengger

Desantara Tengger, yang penduduknya dulu dikenal sebagai petani tradisional yang tangguh, yang ramah dan suka memuliakan tamu-tamu mereka, yang tidak mengenal kasta, ini telah sejak lama menjadi medan persaingan (kontestasi) yang kompleks antarberbagai kelompok dan kepentingan dalam bidang ekonomi dan agama—yang berpengaruh besar terhadap perubahan sosial-budaya masyarakat Suku Tengger. Awalnya adalah pembukaan wilayah Tengger pada akhir abad ke-17 sebagai sentra perkebunan yang luas, terutama di lereng bawah, oleh VOC Belanda. Cengkeh, kopi, kakao, tumbuh subur di sana, dan mendorong perpindahan penduduk dari luar Tengger.

Robert Hefner, antropolog dari Boston University, penulis Geger Tengger: Perubahan Sosial dan Perkelahian Politik, mencatat, mula-mula banyak warga Madura dan orang-orang Jawa bagian barat pindah mendiami wilayah Pegunungan Tengger di lereng bawah. Seiring makin derasnya arus migrasi, warga di lereng bawah yang rata-rata beragama Islam pun beranjak mendominasi dalam berbagai bidang, mengalahkan masyarakat Tengger di lereng atas. Tak hanya dominan dalam ruang sosial-politik, mereka kemudian juga mendominasi perumusan berbagai kebenaran atas dasar Agama Islam.

Pada zaman pendudukan Jepang, kondisi sosial dan ekonomi Tengger menjadi runyam. Jepang merusak perkebunan-perkebunan milik orang-orang Eropa di lereng bawah, menanaminya dengan pohon jarak untuk bahan bakar kapal dan pelumas senjata. Petani Tengger dipaksa membatasi pengusahaan tanaman perdagangan. Jepang juga menebangi pepohonan di Tengger untuk bahan bakar kereta api dan industri batu bara, padahal pepohonan itu berfungsi penting bagi kelestarian air dan tanah. Perilaku tentara Jepang yang kejam, ditambah beban kerja-paksa, membuat banyak warga muda Tengger melarikan diri ke dataran bawah.

Setelah Indonesia merdeka, keadaan cukup membaik, situasi ekonomi di pegunungan Tengger kembali bangkit. Namun, kondisi itu tak berlangsung cukup lama karena satu generasi kemudian terjadi tragedi G30S/1965, yang lalu menjadi gerbang berbagai perubahan sosial besar bagi Suku Tengger. Selengkapnya…

Walandit, Desa Tengger Tertua

Majapahit, paruh awal abad ke-14. Masyarakat Desa Walandit bersengketa dengan tetangga mereka, para pejabat Desa Himad, tentang status otonom (swatantra) Desa Walandit. Pertikaian itu segera memanas dan membuat geger desantara Majapahit, sampai-sampai beberapa petinggi kerajaan turun tangan untuk menengahi—termasuk di antaranya Gajah Mada, yang saat itu menjabat Rakryān Mapatih Janggala dan Kadiri.

Orang-orang Walandit merasa bahwa sejak dahulu kala desa mereka berstatus swatantra, dan mereka ditugasi Sang Raja untuk memelihara candi leluhur (dharma kabuyutan) di Walandit; Mereka hanya mengakui kekuasaan dharma kabuyutan atas lembah dan bukit sekitar Walandit. Maka, mereka menolak kehendak para pejabat Desa Himad yang berniat mengatur-atur dan menguasai mereka.

Sebagai bukti, warga Walandit mengajukan piagam batu berlencana Raja Sindok yang telah mereka terima 400-an tahun sebelumnya. Piagam itu—Prasasti Muñcang—menerangkan tentang sebuah desa bernama Walandit yang merupakan tempat suci yang dihuni para hulun hyang, yakni orang-orang yang mengabdikan hidupnya bagi para dewata. Sang Raja, Mpu Sindok, juga memerintahkan untuk mendirikan prasada kabhaktyan bernama Siddhayoga, tempat para pendeta memanjatkan persembahan kepada Sang Hyang Swayambhuwa (Dewa Brahma) di Walandit. Selengkapnya…

Mengapa Saya GOLPUT?

Tahun 809 M, Harun ar-Rasyid mati. Perebutan kekuasaan dan intrik politik di antara para bangsawan Bani Abbasiyah meningkat makin memanas setelahnya. Porosnya adalah kedua anak Harun: Muhammad al-Amin (putra mahkota, penguasa yang dianggap sah berdasar Perjanjian Ka’bah) dan Abdullah al-Ma’mun (putra kesayangan Harun ar-Rasyid, saudara tiri Muhammad Amin).

Pada puncak ketegangan, al-Amin di Baghdad menggalang pasukan untuk menyerang al-Ma’mun di Merv, Khurasan (kini masuk wilayah Turkmenistan). Saat itulah para tokoh masyarakat dan kepala suku mendatangi Imam Ali Ridha di Madinah, meminta izinnya: bolehkah memenuhi titah al-Amin, mengirimkan pemuda-pemuda mereka untuk bergabung dalam pasukan?

Imam Ali Ridha melarang. “Orang mu’min tidak boleh terlibat dalam urusan ini,” katanya. Lalu ia berdoa, “Tuhan, sibukkanlah orang-orang zhalim dengan sesama mereka.”

Karena itulah saya memilih jadi golput. Saya ngga kenal istilah yang ‘maksa’: memilih yang paling baik di antara yang buruk. Sebab, yang terbaik di antara yang busuk tetaplah busuk.

Ada yang bilang bahwa yang golput nantinya ngga berhak protes atau mengkritisi keadaan, dsb., karena dulunya ngga ikut ‘memilih’. Saya pikir, itu logika ngawur. Justru saya —dan golputer lainnya— berhak memprotes kondisi yang makin buruk gara-gara pilihan kalian yang tetap buruk (terbaik di antara yang buruk?); sama berhaknya kalian memprotes saya karena golput. 🙂

Ambil Tanahmu Sendiri

Sekelompok ilmuwan terlibat dalam diskusi mendalam, dan mereka sampai pada kesimpulan bahwa teknologi telah sedemikian canggihnya sehingga manusia tak lagi butuh Tuhan. Mereka lalu mendatangi Tuhan untuk menyampaikan pernyataan.

“Tuhan, kami telah bersepakat bahwa keberadaan-Mu tak lagi kami perlukan. Terus terang saja, kini kami sudah bisa mengklon manusia dan melakukan berbagai hal ajaib lainnya. Nah, tolong selekasnya tinggalkan kami dan, maaf, jangan kembali lagi.”

“Baiklah,” kata Tuhan sembari tersenyum penuh kemahasabaran, “bagaimana kalau sebelumnya kita berlomba membikin manusia?”

“Menarik. Ayo kita mulai,” kata salah seorang ilmuwan.

“Aku ingin kita melakukannya persis saat mula-mula dulu Kuciptakan Adam,” ujar Tuhan menambahkan.

“Tak masalah,” kata ilmuwan lainnya sambil beranjak membungkukkan badan untuk mengambil segenggam tanah, bahan dasar manusia.

“Eit, ambil tanahmu sendiri, kawan!” ujar Tuhan. “Jangan pakai tanah-Ku.” 🙂

Kelak, pada hari pembalasan, ada banyak orang yang punya kebiasaan mengucap ‘bismillah’ sebelum melakukan segala sesuatu tapi, kata Nabi Muhammad SAW, terpaksa digiring ke neraka karena perbuatan-perbuatan buruk mereka. Dalam nestapa dan penyesalan, ketika orang-orang ini digiring ke neraka, di pintu jahannam secara refleks mereka berkata sebelum memasukinya, “Bismillahir Rahmanir Rahim.”

Tuhan yang maha-mendengar ucapan itu serta-merta berteriak kepada malaikat-Nya, “Hentikan! Tak mungkin Kubiarkan orang-orang yang memanggil-Ku Sang Pengasih lagi Penyayang, ar-Rahman ar-Rahim, untuk memasuki jahannam!”

bismillaho, c*k!

1 2 3 6  Kembali ke atas